Buku-buku Agatha Christie yang Sudah Kubaca

Perjalananku dan Sang Ratu Misteri

Awal aku mengenal buku-buku Agatha Christie memang belum lama, mungkin sekitar bulan Maret tahun lalu. Karyanya yang pertama kubaca adalah And Then There Were None (Lalu Semuanya Lenyap), karena setelah mencari-cari rekomendasi, banyak yang memfavoritkan buku satu ini. Keputusan yang benar, karena dengan buku ATTWN aku mendapatkan kesan pertama yang baik terhadap karya-karya Agatha Christie lainnya. Cerita yang epic dan dibuat dengan alur cepat berhasil menghipnotisku. Membaca buku ini merupakan pengalaman yang luar biasa, karena sepanjang cerita kecurigaanku terus berpindah, menegaskan betapa cerdiknya alur dan penokohan buku ini dibuat. Sampai ending pun aku tidak bisa menebak siapa pelakunya, dan setelah mendapatkan jawabannya aku terus termenung dengan trik-trik si Ratu Misteri ini. Bahkan aku sempat baca ulang sekitar beberapa bulan setelahnya, karena penasaran bagaimana aku sama sekali tidak membayangkan pelakunya si itu.

Buku kedua yang kubaca adalah Crooked House (Buku Catatan Josephine). Dengan cover sepatu tutu (CMIIW) dan botol pil yang terbuka, kurasa buku ini akan menceritakan mengenai sebuah tragedi yang menyangkut anak perempuan, dengan nama Josephine jika melihat judulnya. Namun ternyata tidak semudah itu. Dengan alur yang cukup lambat, buku ini habis kulahap dalam waktu seminggu. Penokohannya pun tidak sekompleks yang kuharapkan. Sepertinya aku sudah menilai rendah buku ini terlebih dahulu, sehingga aku melewatkan sebuah petunjuk yang sangat-sangat penting dan disertakan di bagian awal buku. Alhasil, seperti yang diduga, aku terkecoh dan tidak berhasil menebak pelaku ataupun motifnya.

Buku-buku lainnya yang sudah kubaca tidak meninggalkan kesan yang mendalam bagiku. Diantara judul-judul yang sudah kubaca ini, ada beberapa yang asyik dibaca, ada juga yang menjemukan sehingga dua hari setelah membacanya aku sudah lupa inti ceritanya.

Pada bulan September tahun 2021 ini, aku baru membaca 11 buku Agatha Christie, dari total koleksi 20 buku. Aku akan mencoba membuat rating dari buku-buku yang sudah kubaca, yang disusun dalam daftar sebagai berikut (diurutkan dari yang pertama dibaca).

  1. And Then There Were None (Ten Little Niggers) - Lalu Semuanya Lenyap 5/5⭐
  2. Crooked House - Buku Catatan Josephine 3,5/5⭐
  3. Murder in the Mews and Other Stories - Pembunuhan di Lorong 4/5⭐
  4. 4.50 from Paddington - Kereta 4.50 dari Paddington 4/5⭐
  5. The Seven Dials Mystery - Misteri Tujuh Lonceng 4/5⭐
  6. Murder in Mesopotamia - Pembunuhan di Mesopotamia 3/5⭐
  7. Curtain - Tirai 4,5/5⭐
  8. The Man in the Brown Suit - Pria Bersetelan Cokelat 4,2/5⭐
  9. The Secret Adversary - Musuh dalam Selimut 3/5⭐
  10. Hickory Dickory Dock - Pembunuhan di Pondokan Mahasiswa 4,8/5⭐
  11. Dumb Witness - Saksi Bisu 4/5⭐

Sepertinya aneh jika hanya menyertakan rating, maka aku menyisipkan link reviewnya, hanya saja karena sebelumnya aku aktif di bookstagram, maka review kubuat di platform Instagram.

Jadi, bagaimana kesanku terhadap buku-buku Agatha Christie? SUKA!!! CINTA!!! hehe. Setiap bukunya punya susunan khas yang hampir sama, meski detektif yang ditampilkan berbeda. Jelas, yang paling dikenal adalah Hercule Poirot, dengan sel kelabunya yang sangat mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Memulai perjalanan dengan Poirot seperti harus mempersiapkan diri terhadap hal-hal kecil yang sekiranya kita anggap remah, nemun justru disitulah letak kunci permasalahannya. Sering kali Poirot didampingi sahabatnya, Kapten Hastings. Dengan tokoh Kapten Hastings, justru aku sering merasa aku hadir sendiri di sisi Poirot karena cara berpikir Hastings dibuat sedemikian 'umum'nya. Istilah lainnya, Kapten Hastings mewakili kita sebagai pembaca untuk lebih masuk dalam cerita.

Miss Marple juga menurutku hampir sama seperti Poirot, hanya saja karena karakternya perempuan maka cara berpikir Miss Marple lebih didominasi kepekaannya sebagai wanita Inggris zaman dulu. Berbeda dengan Tommy & Tuppence, yang berkarakter kuat dengan kelincahannya sebagai usia muda, sehingga petualangannya diwarnai aksi-aksi.

Yang kukatakan 'punya susunan khas yang hampir sama' terletak di plotnya. Awal buku biasa dimulai dengan pengenalan karakter yang dapat dibilang alurnya cukup lambat. Lalu setelah kecurigaan-kecurigaan bertumpuk karena terus berjalannya kasus, ending tiba-tiba hadir saat buku hanya tersisa 5 lembar. Kita diharuskan memproses segala yang terjadi dalam buku tersebut di penutupan buku itu. Bisa dibayangkan kan betapa setelah membaca buku Agatha Christie aku sering termenung 😅

Comments

Popular Posts