Book Review: Best Time by Tong Hua

 

Tidak Ada yang Aneh dengan Wanita yang Mengejar Pria, kan?

"... Tetapi bukan hanya cinta yang ada di dalam hidup ini, melainkan ada pula penderitaan. Sesudah menangis sepuas-puasnya, kami tetap akan memupuk semua keberanian yang kami miliki dan melanjutkan hidup. Tetapi kami juga perlu memberikan sebuah kejelasan pada masa lalu kami, pada setiap pengorbanan yang sudah kami lakukan. Jawaban atas semua ini bagaikan tanda titik, yang membuat kami bisa menyelesaikan bagian cerita hidup kami ini dengan puas, dan memulai bagian cerita yang baru."  — Su Man


Aku dan kamu pasti pernah menyukai seseorang. Entah pada akhirnya aku dan kamu mengungkapkan perasaan kita atau tidak, kukira hasilnya adalah keputusan yang penuh pertimbangan. Dengan mengungkapkan perasaan, berarti kita harus siap mendengar jawabannya. Mungkin setelah itu kita mengalami kisah cinta yang kita impikan. Tapi kita juga harus siap kehilangan seseorang karena orang tersebut menolak dan menjaga jarak. Mana yang kamu pilih?

Mengungkapkan perasaan rasanya menjadi satu hal yang pasti dialami remaja-dewasa pada umumnya. Meski biasanya dilakukan oleh pria, ada juga wanita yang mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Mungkin karena si wanita sudah terlalu lama memendam rasa itu. Mungkin karena si pria tidak berinisiatif untuk selangkah lebih dekat. Mungkin juga karena si wanita memang tipe orang yang blak-blakan.

Tapi bagaimana jika orang yang kita sukai dan sudah kita beritahukan perasaan kita kepadanya, justru tidak mengambil keputusan? Tidak memberikan penjelasan, tidak menerima, dan juga tidak menolak? Apa yang harus kita lakukan? Bahkan untuk mendapatkan tanda titik di perasaan kita juga kita tidak mampu. Masa lalu dan masa kini selalu berbaur. Tidak ada batas dimana kita bisa memulai cerita yang baru.

Novel ini adalah tentang Su Man yang memendam rasa kepada Song Yi selama tujuh tahun. Secara harfiah, tujuh tahun :) Tapi ini bukan ceritaku, ini tentang Su Man.

Blurb

Jabatan Su Man di perusahaannya sudah cukup tinggi, tapi tanpa ragu ia keluar dari pekerjaannya. Gadis ini memalsukan CV-nya supaya bisa melamar di kantor Song Yi, CEO perusahaan MG yang juga adalah pria yang sudah disukainya selama tujuh tahun.

Sahabatnya, si Cabe Rawit mengatakan keputusannya konyol. Namun tekad Su Man sudah bulat.

Sayangnya, meski Su Man berhasil bekerja di MG dan mendekati Song Yi, rencananya tidak berjalan mulus. Terutama dengan adanya Lu Li Cheng. Pria atasan Su Man ini mengetahui rahasia gadis itu dan berniat ‘memeras’-nya.

Belum beres permasalahan tersebut, ternyata si Cabe Rawit, sahabatnya, merahasiakan sesuatu tentang Song Yi dari Su Man.


Cerita dan Penokohan

Pertama-tama, aku ingin berbicara mengenai blurbnya, yang secara utuh kujiplak dari bagian belakang buku. Apa yang disampaikan dalam blurb merangkum isi buku, tapi tidak sampai setengahnya. Dari separuh awal sampai pertengahan progress bacaku memang sangat lambat karena permasalahan masih seputar yang disebutkan di blurb. Tapi, tidak disangka puncak masalah dan penyelesaian jauh-jauh-jauh dari apa yang ditulis di blurb, sehingga membuatku berpikir bahwa blurb dibuat dengan kurang lengkap.

Cerita dimulai dengan pace yang cukup lambat, dimana menceritakan keseharian Su Man dengan Cabe Rawit, teman yang sudah dianggap sebagai jie jie nya sendiri. Pembangunan karakter di awal sangat kusukai, selain to the point, membayangkan tokoh selanjutnya jadi terasa mudah. Sampai lebih dari separuh buku, permasalahan yang muncul tidak banyak. Jujur saja berkali-kali aku ingin menyerah karena merasa buku ini terlalu dramatis.

Kadar manis dalam buku ini terlalu tinggi untukku yang jarang membaca buku romansa. Saking manisnya, aku sering tersenyum dan tertawa sendiri sampai batuk-batuk. Rasanya buku ini bisa membuatku diabetes.

Keputusan yang benar karena aku tidak jadi me-dnf-kan buku ini. Selain si masalah utama, aku menemukan "masalah" yang justru mempermainkan emosiku berkali-kali. Dengan masalah yang muncul di paruh akhir buku, malah mengubah seluruh pandanganku terhadap tokoh-tokoh yang ada. Dan coba bayangkan, belum sampai disitu! Kurang dari 100 halaman menjelang akhir aku sudah bertanya-tanya, akan dibuat seperti apa cerita ini karena masih ada masalah lain yang belum terselesaikan. Sampai pada akhirnya di epilog, aku pun kurang setuju dengan ending yang disuguhkan.

Jadi, aku menarik kata-kataku tentang buku ini bisa membuatku diabetes. Semoga hidup memang tidak semanis itu, tapi juga semoga tidak semenyedihkan itu!

Aku menyukai hampir semua tokohnya, meski seringkali mereka diceritakan sebagai tokoh lemah yang sangat bergantung dengan si laki-laki. Aku berusaha memaklumi sisi melodrama buku ini.

Tokoh yang paling kusukai justru Lu Li Cheng, second lead yang membelokkan perhatianku dari Song Yi. Sebagaimana second lead, Lu Li Cheng mengingatkanku dengan sekiaaaan banyak tokoh second lead di drama korea. Tapi aku sadar seharusnya aku tidak mengharapkan Lu Li Cheng dan Su Man berakhir bersama.

Ini adalah novel mandarin terbitan Haru yang pertama ku baca. Terjemahannya cukup luwes dan mengalir, meski di beberapa tempat ada yang kaku. Penyebutan atau sapaan dibuat sesuai bahasa aslinya, sehingga aku sebagai pembaca merasa berkali-kali diperingatkan mengenai setting dan penokohannya. Dengan sapaan yang menggunakan bahasa aslinya, terjemahan ditulis hanya sekali di bagian bawah buku (catatan kaki), sehingga saat tokoh tersebut muncul di bagian lainnya aku secara tidak langsung akan belajar menghapalnya.

Menurutku pribadi (tanpa mencari data dulu), novel ini dikategorikan sebagai novel romance metropop dan chicklit. Setting yang digunakan adalah kehidupan di kota besar Beijing, dimana tiap tokohnya berusaha mencapai puncak karirnya.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, nilai yang dapat diambil dari buku ini sangat banyak. Keluar dari konteks "percintaan" yang menjadi masalah utamanya, nilai kekeluargaannya sangat baik.

Menurutku buku ini menyenangkan dan menyakitkan di caranya sendiri. 4/5 untuk buku ini.

Desain

Buku ini berjenis kertas atau jilid floppy, sehingga aku dapat membaca buku ini dengan nyaman sambil diletakkan di meja atau pangkuan.

Covernya dibuat oleh Alvinxki, dan berilustrasikan dua orang yang berpapasan di suatu jalan. Si wanita beraut wajah sedih mendalam yang terlihat ragu akan berbalik atau terus berjalan. Si pria terus berjalan tanpa menolehkan kepalanya. Nuansa kuning dan oranye yang digunakan memberikan suasana hangat sekaligus dingin.

Judul buku dibuat sangat besar di bagian tengah-atas buku dengan font handwriting dan berwarna merah tua. Nama penulis dicantumkan di bagian kanan bawah novel berbentuk sticker segi enam.

Book Information

Judul最美的时光Zuì Měi De Shí Guāng / The Most Beautiful Time
Judul dalam Bahasa Indonesia: Best Time
Pengarang: Tong Hua
Penerbit: Haru
Jumlah halaman: 464 hlm
Dimensi: 20 cm
Harga di tahun 2020: sekitar Rp 89.000,-

Find me on


Comments

Popular Posts