Book Review: Arsenic and Adobo by Mia P. Manansala
Buku Pertama dari Tita Rosie's Kitchen Mystery, Seperti Apa?
Buku yang ringan dan nyaman dibaca ini menceritakan tentang sebuah restoran keluarga di sebuah kota kecil. Di tengah lingkungan yang ramah dan hangat, tiba-tiba terjadilah suatu kasus yang mengguncang kota kecil itu.
Buku ini adalah buku pertama yang ku selesaikan dengan membaca menggunakan ereader Kindle ku. Dengan isi sekitar 330 halaman, buku ini kupilih karena covernya yang apik.
Blurb
When Lila Macapagal moves back home to recover from a horrible breakup, her life seems to be following all the typical rom-com tropes. She’s tasked with saving her Tita Rosie’s failing restaurant, and she has to deal with a group of matchmaking aunties who shower her with love and judgment. But when a notoriously nasty food critic (who happens to be her ex-boyfriend) drops dead moments after a confrontation with Lila, her life quickly swerves from a Nora Ephron romp to an Agatha Christie case. (source)
Ketika Lila Macapagal pulang ke rumahnya untuk menyembuhkan diri dari putus dengan tunangannya, hidupnya seperti mengikuti segala jenis tipe komedi romansa. Dia bertugas menyelamatkan restoran Tante Rosie yang menuju kegagalan, dan dia harus berhadapan dengan sekelompok tante-tante yang menghujaninya dengan cinta dan penilaian. Tapi ketika seorang pengkritik makanan yang terkenal tapi tidak menyenangkan (yang dulunya juga mantan pacarnya) jatuh terbunuh setelah berkonflik di hadapan Lila, hidup Lila dengan cepat berubah dari 'kejar-kejaran' (?) Nora Ephron ke kasus Agatha Christie.
Cerita dan Penokohan
Cerita diawali dengan pengakuan Lila akan hidupnya yang seperti rom-com cliché, yang sebetulnya menurutku tidak. Dia mengalami putus hubungan dengan tunangannya, dengan tidak baik-baik, yang membuatnya harus keluar dari kota perantauannya dan kembali ke kampung halamannya. Meskipun di kota asalnya yang kecil itu dia bertemu dengan mantan semasa SMA nya, terlibat CLBK atau apapun itu, cerita yang dibuat masih sangat dapat dinikmati.
Penceritaan masa lalu Lila di Chicago tidak diceritakan secara langsung, namun hanya beberapa kali diungkit kembali. Cerita seutuhnya pun tidak dijelaskan, melainkan mengikuti jalannya cerita utama dalam buku ini. Jadi pada awalnya nanti kita akan menggarisbawahi sesuatu yang ada di masa lalu Lila, yang tidak akan ku jelaskan sekarang. Sehingga secara keseluruhan cerita dibawakan dengan alur maju.
Buku ini merupakan buku cozy mystery, dimana unsur misteri dicampur dengan suasana hangat yang berhubungan dengan kekeluargaan, restoran keluarga lebih tepatnya. Lila dikelilingi oleh orang-orang yang paling disayangi dan menyayanginya, Lola (nenek) Flor, Tita (bibi) Rosie, Longganisa (anjing sosisnya), dan para ibu baptisnya yang senang menggosip dan ikut campur, tapi itulah cara mereka menyayangi Lila.
Misterinya sendiri dibungkus dengan apik. Kasus utama yang melibatkan kritikus makanan tersebut ditambah lagi dengan beberapa kasus baru yang tetap berhubungan, membuatku sebagai pembaca ingin terus membaca hingga akhir.
Berbicara tentang restoran keluarga tadi, buku ini memang sangat-sangat sarat dengan makanan. Terlalu banyak jenis makanan yang disebutkan. Tidak hanya makanan khas Filipina, tapi juga Jepang, Mexico, dan makanan pencuci mulut yang biasa dijual di cafe. Meski banyak jenis makanan yang tidak pernah kudengar sebelumnya, membaca pendeskripsian makanan-makanan tersebut mampu bikin air liurku keluar. Bahkan di akhir buku ini juga disertakan beberapa resep makanan yang jadi andalan selama cerita. Bisa praktek buat nih!
Memang di buku ini, makanan memegang peran yang sangat penting. Ketika kamu sedang down, makanan selalu ada buat kamu. Kamu terguncang? Makanan juga ada buat kamu. Makanan buat menyambut orang lain, makanan buat bingkisan tangan, makanan buat mencintai orang lain. Tapi makanan juga buat... membunuh orang.
Beberapa hal yang kurang kusuka dari buku ini adalah sikap-sikap Lila yang agak aneh. Sesaat setelah terjadinya pembunuhan di depan matanya, ia tidak terguncang dan malah mementingkan penampilannya. Lalu saat masalah semakin bertambah serius, dia tidak menganggap tuduhan pembunuhan dengan serius dan berkeliaran semaunya. Iya memang dia berusaha menemukan pembunuh yang asli demi menyelamatkan dirinya dan restoran bibinya, tapi sikapnya bukan seperti tertuduh yang seharusnya lebih berhati-hati.
Meski diklaim penuh humor, menurutku sama sekali tidak. Aku tidak ingat pernah tertawa sedikitpun selama membaca buku ini.
Kesimpulan
Untuk buku ini, kukira layak untuk mendapatkan rating 4/5.
Desain
Karena membaca lewat Kindle yang tampilannya hitam putih, foto cover ini kuambil dari Goodreads.
Ilustrasi utamanya adalah wajan atau panci berisi masakan yang bernama adobo, dengan ilustrasi wanita muda separuh wajah yang sedang menuangkan sesuatu. Dilihat sekilas, sesuai dengan judulnya, cairan yang dituangkan dapat dibayangkan menjadi sesuatu yang mencurigakan, dan yang menuangkan adalah si wanita muda. Tapi jangan menilai dulu, kan tidak boleh menilai buku dari covernya, hehe. Dari awal pun aku berusaha untuk tidak memberikan penilaian apa-apa, dan benar saja aku dapat dengan mudah mengalir mengikuti alur ceritanya.
Warna yang digunakan vivid dan sangat kontras. Antara background yang bernuansa panas, dijejerkan dengan ilustrasi yang menggunakan warna biru dan kuning, hitam dan cokelat. Di pundak si wanita muda terdapat si anjing sosis juga, bila diperhatikan.




Comments
Post a Comment