Book Review: When You Trap a Tiger by Tae Keller
Pada Zaman Dahulu Kala...
Sudah beberapa hari aku menyelesaikan buku ini, tapi baru sekarang sempat menuliskan reviewnya. Ini adalah sebuah buku yang berdasarkan cerita rakyat Korea dengan penulisan yang mudah dimengerti dan ringan dibaca dalam sekali duduk.
Pada zaman dahulu kala, ketika seekor harimau berjalan seperti manusia..
Blurb
When Lily and her family move in with her sick grandmother, a magical tiger straight out of her halmoni's Korean folktales arrives, prompting Lily to unravel a secret family history. Long, long ago, Halmoni stole something from the tigers. Now, the tigers want it back. And when one of those tigers offers Lily a deal—return what Halmoni stole in exchange for Halmoni's health—Lily is tempted to accept. But deals with tigers are never what they seem! With the help of her sister and her new friend Ricky, Lily must find her voice... and the courage to face a tiger. (source)
Ketika Lily dan keluarganya pindah ke rumah neneknya yang sakit, seekor harimau secara ajaib muncul dari cerita-cerita rakyat neneknya, mendorong Lily untuk menyingkap rahasia dalam sejarah keluarganya. Pada zaman dahulu kala, nenek mencuri sesuatu dari para harimau. Kini mereka memintanya kembali. Dan salah satu harimau menawarkan Lily sebuah perjanjian—untuk mengembalikan apa yang dicuri nenek, dengan imbalan kesehatan neneknya—Lily tergoda untuk setuju. Tapi berurusan dengan harimau tidak seperti yang terlihat! Dengan bantuan kakaknya dan teman barunya, Lily harus menemukan suaranya, dan keberanian untuk menghadapi sang harimau.
Cerita dan Penokohan
Cerita diawali dengan penggambaran diri Lily yang lekat dengan julukan QAG (Quite Asian Girl) karena sifatnya yang suka berdiam diri. Ia seorang anak berumur 10 tahun, yang sedang dalam perjalanan pindah ke rumah neneknya, bersama ibu dan kakak perempuannya yang sudah remaja.
Lily sangat mendambakan kehidupan seperti masa kecilnya, saat kakaknya masih menjadi kakak yang penuh perhatian dan selalu membela Lily. Saat ibunya juga masih berbahagia karena ayahnya belum pergi. Tapi saat bertemu nenek, Lily merasa sudah cukup puas dengan kasih sayang neneknya. Sayangnya, nenek sakit. Dan Lily tergoda untuk membuat perjanjian dengan sang harimau.
Buku ini berisi perpaduan antara kekeluargaan, cerita rakyat, magical realism, dan pertemanan. Penulisan yang digunakan dalam buku ini sangat ringan dan mudah dimengerti. Saking ringannya, buku ini cenderung terasa dangkal dan tidak bisa membuat cerita menjadi kompleks (meskipun permasalahan yang diangkat cukup banyak).
Selama membaca buku ini, sebenarnya terasa sangat menyenangkan dan aku menikmatinya. Banyak kutipan-kutipan bagus yang membuatku merasa terkait juga dengan buku ini. Tapi untuk menjadi buku favorit, buku ini masih terlalu jauh dari itu. Sebagai tambahan, ada trigger stereotip dan duka, tapi aku masih gagal terpengaruh secara emosional.
Justru pada chapter terakhir yang membuatku merasa buku ini merupakan buku yang tidak cocok dibaca oleh anak-remaja, meski labelnya sendiri adalah untuk middle grade. Ada satu isu orientasi seksual yang 'menyimpang' yang sama sekali tidak berhubungan dengan cerita, dan ditambahkan seakan-akan hanya untuk mengikuti perkembangan zaman dimana semuanya menyertakan hal itu. Istilahnya sekedar a box to be check.
Kesimpulan
Mengabaikan isu tadi, buku ini bernilai 4/5. Tapi setelah mempertimbangkan adanya isu tersebut, kukira buku ini hanya layak untuk rating 3,3/5.
Desain
Karena membaca lewat Kindle yang tampilannya hitam putih, foto cover ini kuambil dari Goodreads.
Ilustrasi utamanya adalah sang harimau yang seperti jin keluar dari lampu, tapi kali ini toples. Dengan gaya desain penuh blink-blink, hawa magis dari sampulnya sangat terasa. Sampul ini jugalah yang sebenarnya menarikku untuk membaca buku ini.
Warna yang digunakan selaras, dengan latar biru-ungu gelap (seperti langit) ditambah awan-awan berwarna pink-ungu tua, dan ilustrasi sang harimau oranye-hitam-putih yang pudar di bagian separuh belakangnya.



Comments
Post a Comment