Selamat Jalan, Anjingku Sayang.
Sebuah Ungkapan Duka
10 years ago you walked in to our store with your little legs and we instantly fell in love with you. But now you're gone. Thank you for being our longest, dearest, best friend.
Kemarin, dua anjingku mati dengan tersiksa. Mereka berdua memakan tikus yang sudah mati dengan racun tikus. Padahal tikus itu sudah dibakar supaya langsung habis dan gak akan meracuci siapa atau apapun. Tapi dengan nakalnya mereka mengorek-orek tempat pembakaran meski api belum padam.
Si Chiko, yang sudah kami pelihara kurang lebih sekitar 10 tahun, akhirnya harus mati dengan cara yang mengenaskan. Si Jimong, cucu Chiko yang energik dan bugar, lebih tersiksa lagi sebelum maut menjemputnya.
Keduanya sangat berisik di malam kami sekeluarga menonton film, tanggal 23 Oktober 2021 sekitar jam 22.00 WIB. Kami kira mereka mengejar tikus atau ular atau bahkan kucing tetangga yang gak sengaja masuk halaman kami. Si Chiko sempat masuk rumah dan terlihat kebingungan. Aku dan adikku langsung menengok dan menyalakan lampu, tapi tidak ada apa-apa.
Malamnya aku tertidur sangat-sangat lelap dan gak mendengar apapun. Juga karena paginya adalah hari Minggu, aku gak terpikir untuk bangun lebih pagi. Aku masih merasakan nyamannya tiduran sampai Minggu siang. Ternyata setelah mami dan adikku pulang dari gereja, mereka bercerita bahwa sepanjang malam kedua anjing kami gak berhenti lari-lari dan menggonggong.
Subuh hari, papi menemukan badan Chiko sudah mengambang di empang rumah kami. Sedangkan Jimong ada di kolam di bawah saung di halaman rumah kami. Keduanya masuk ke dalam air, adalah keanehan di atas berisiknya mereka semalam. Subuh itu juga papi langsung menguburkan Chiko, sedangkan Jimong masih terlihat kuat meski jelas sekali raut wajahnya tersiksa.
Aku gak bisa menutupi rasa sedihku kehilangan Chiko, anjing yang paling lama kami pelihara. Atau bahkan Jimong, si nakal itu.
Aku mengangkat Jimong dari kolam dan kubasuh dengan air bersih, tapi Jimong sudah pasrah. Akhirnya kuselimuti dan kutunggu. Beberapa kali dia seperti tersiksa dan sekarat. Aku sedih, bingung, putus asa. Akhirnya kucoba buka internet dan mencari solusi untuk mengatasi anjing keracunan. Ada beberapa sumber menyebutkan bahwa memakai garam untuk memancing anjing memuntahkan racun. Ku tahu itu mustahil karena jangka waktu sejak memakan sudah cukup lama, tapi akhirnya kucoba. Dan gagal. Aku harusnya tahu itu. Sepertinya racun sudah sangat merusak organ dalamnya.
Dengan putus asa, akhirnya aku kembali ke kamarku. Mami meminta izinku untuk sekalian mengakhiri hidup Jimong, karena tidak ada yang tega melihatnya tersiksa lebih lama. Aku gak menjawab.
Gak lama, kudengar suara papi yang memanggil-manggil Jimong. Langkah papi berjalan di halaman, karena terdengar dari suara langkah di atas kerikil dan daun kering, lalu kuhitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Mungkin belum. Saat itulah aku mendengar suara sesuatu diceburkan ke air dan menggelepar-gelepar. Tidak kurang dari 30 detik, Jimong sudah pergi.
Keduanya dikuburkan di halaman rumahku, lahan yang sejak dulu beralih fungsi menjadi kuburan. Kuburan teman-teman berbulu kami. Molly, Rhino, Gaedong, lalu ada seekor anjing yang tertabrak di jalan depan rumah kami, dan masih banyak lagi.
Sekarang yang tersisa di rumah kami hanya Cimot, anak dari Chiko dan Jimong. Mungkin memang berpenampilan jelek, dengan bulunya yang tipis dan suaranya yang melengking, tapi Cimot adalah satu-satunya teman kaki empat kami sekarang.
Cimot secara khusus dirawat adikku di halaman depan rumah kami, jadi secara beruntung dia tidak ikut pesta racun.
Mungkin ini bukan terakhir kalinya kami memelihara anjing, tapi yang jelas bukan dalam waktu dekat ini.
I’m sorry for not taking care of you like the other masters did. I will, and already miss you all. Good bye Chiko, and also Jimong.


Comments
Post a Comment